Di
suasana kampus yang dingin di siang hari, karena pada hari itu hujan cukup
deras. Baim dan ketiga orang kawannya Arman dan Khadir sedang duduk asik di
dalam ruangan kampus, sambil menunggu dosen matapelajaran datang. Baim yang
sejak tadi sibuk menggambar oret-oretan yang gak jelas jadi terbawa pembicaraan
kedua temannya itu, saat salah satu diantara mereka, yaitu Arman. Menanyakan
hal apakah yang harus dilakukan pertama kali oleh orang yang berpacaran? Apakah
jalan bareng, nonton bareng, makan bareng atau pegangan tangan?
Baim
menjawab jika semua hal itu hanyalah urutan ketujuh. Kedua temannya heran
mengapa bisa di urutan ketujuh, padahal dalam hubungan antara pria dan wanita
hal yang tadi disebutkan Arman sangatlah penting. Dengan simple Baim menjawab.
“Karena
urutan satu sampai ke enamnya adalah rukun iman.”
*Dalam hidup, hubungan antara
wanita dan pria bisa diasosiasikan dengan pacaran, jalan bareng, nonton bareng,
suap-suapan makanan sampai sendoknya bengkok atau bahkan sampai piringnya
pindah ke muka atau apa ajalah memang penting. Tapi itu semua cuma berada di
urutan ke tujuh setelah ke enam rukun iman. Karena tanpa ke enam rukun iman,
hubungan pria dan wanita hanyalah sekedar syahwat. Bukanlah akhirat.* ~Inspired
by Imam Ali Bin Abi Thalib~
Sebenarnya pada zaman dahulu kala,
di saat usia ane masih 365 tahun perjanalan cahaya. Ane juga pernah ngerasain
apa itu yang namanya jatuh cinta. Namun dunia seolah-olah tidak menghendakinya,
karena yang ane cintai itu adalah ban dalem bajaj. Selepas peristiwa yang
menyayat hati dan telinga itu, ketika usia ane udah beranjak dewasa. Ane jatuh
cinta pada seorang gadis. Gadis yang membuat ane selalu mengingatnya. Mau makan
inget dia, mau minum inget dia, mau mandi apalagi tambah inget dia, mau pake
baju inget dia, mau tidur inget dia. Cuma waktu ngeliat sodara ane dikubur, ane
baru inget Tuhan dan dosa-dosa ane. Ane beri dia segalanya dari uang, waktu,
hadiah, do’a-do’a malam ane juga untuk dia. Tapi apa yang ane dapat? Ane gak
dapet apa-apa, kami berpisah gitu aja. Karena pacaran itu ibaratnya adalah taruhan. Jadi nikah belum
tentu, tapi dosanya pasti.
Kemudian ane melakukan perjalanan
untuk mencari jawaban apakah arti cinta dan jodoh itu. Ane pernah baca dalam
sebuah postingan di internet yang berkata, “Cintailah seseorang itu secara
diam-diam seperti kisah cinta suci Sayyidatina Fatimah Az- Zahra dan Sayyidina
Ali Bin Abi Thalib, yang akhirnya Allah persatukan juga cinta mereka.
Sesungguhnya, mereka yang mencintai secara diam-diam itu sedang berjihad menentang
kehendak diri dan menundukan nafsu hati.” Ane pernah baca kisahnya, dan
bener-bener kisah cinta yang bukan hanya luar biasa, tapi juga suci, yang
bahkan setan pun tidak mengetahui jika mereka saling mencinta. Sungguh pria dan
wanita seperti mereka itu di zaman sekarang sudah tidak diproduksi lagi. Si
pria adalah calon pria Padang Mahsyar yang zuhud terhadap keindahan dunia, dan
si wanita penyabar dalam do’anya. Dan untuk ane sendiri, sampai sekarang
perjalanan ane masih berlanjut, entah di mana akan berlabuh, sambil terus
memperbaiki diri dan memantaskan diri untuk berkah dan teman di Dunia serta
Akhirat itu.
Beri aku lelahmu
Ambillah kuatku
Lalu berjalan dan menarilah di Bumi
Allah ini
Semoga tidak ada yang berbuat jahat
dan menyakitimu
Aku tidak bisa memberi seikat
bunga, tiket bioskop ataupun janji hidup mewah
Aku hanya pengemis yang cuma bisa
mengetuk pintu rumah-Nya
Menyebut nama kekasih-Nya (Muhammad
saw)
Dengan harapan Dia mau mengampuni,
dan merubah nasib hamba yang hina ini
Karena semenjak mencarimu, aku
menemukan siapa diriku
Kaulah berkah dan ibadahku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar